journey to the sky island (2)

IMG_20170814_170806

Dengan chasis baru, lebih ramping, uji coba pun dilakukan dan ternyata masih gagal pemirsa sekalian.

What’s wrong with you, beb?

Mangecek yo murah, malakukannyo nan payah, itu lah kira-kira ungkapan minang yang sesuai dengan trip saya kali ini. Dilihat video drone/quadcopter diinternet, mudah dan simpel namun ketika dicobakan? Banyak gagalnya ;).

Kesimpulan untuk kedepannya, cari propeller dan sumber daya eksternal yang lebih lagi.

journey to the sky island (1)

Pulau langit? Dijaman serba canggih ini, ke pulau langit tidak perlu menunggu awan colonimbus cumuloregalus dan retakan daratan laut untuk bisa terpental ke pulau langit (Knock Up Stream diserial One Piece).

Dengan kekuatan baling-baling doraemon pun kita bisa kepulau langit, namun demi terjamin keberangkatan kita ke pulau langit, empat baling-baling pun dijadikan satu.

Lalu apakah baling-baling ini dapet terbang? Belum 😀

Kenapa?

  1. Karena keterbatasan alat yang dimiliki, perakitan keempat baling ini belum maksimal. Sumber tegangan, keseluruhannya berasal dari pin 5v arduino, sehingga asumsi awal kami, suplai ini belum dapat memaksimalkan putaran motor coreless. Sehingga kedepannya, motor akan dialiri tegangan yang lebih besar dan dari sumber eksternal yang lebih terjamin,
  2. Arah putaran motor, hanya dua motor coreless yang memiliki arah angin kebawah, sedangkan dua lagi keatas sehingga gaya yang ditimbulkan oleh keempat motor saling meniadakan, sehingga kedepannya akan dibuat mengarah kebawah,
  3. Chasis dibuat lebih ramping dan ringan lagi, mungkin dari sedotan,
  4. Ada pendapat kalau propeller nya kecil sehingga daya dorongnyo pun kecil, sehingga perlu propeller yang lebih besar.

Begitulah pengalaman pra-terbang ke pulau langit, semoga keesokannya udah bisa kesana dengan baling-baling doraemon.

Ω

Terkadang melihat anak-anak mencari secercah nafkah dengan mengumpulkan, lalu menyusun dan menjaga sendal dimana orang lainnya solat itu agak miris. Praktek keagamaan (konteksnya disini solat) tidak boleh dijadikan ladang basah

Lapangan veledrom

Yosh, mari dimulai rutinitas mengisi blog ini yang telah mulai memudar akibat kesibukan saat bulan puasa dan idul fitri, kebetulan masi nganggur setelah wisuda ini menyebabkan saya harus mencari kesibukan lainn sementara menyebar laamaran kemana-mana.

Lapangan veledrom adalah arena yang biasa digunakan para pengemudi sepeda tingkat tinggi untuk beradu kemampuan. Tidak tahu bagaimana sejarahnya, namun saat ini veledrom yang sering saya datangi untuk memacu daya otot ini tidak lagi menjadi arena peraduan seperti namanya tersebut. 

Saat ini tak lebih dari area jogingnya bapak-bapak manula atau ibuk-ibuk. Tak lebih area berlari riangnya anak-anak. Tak lebih dari area lari penuh semangat (pamernya) anak-anak muda. Tak lebih lapangan sore bagi penyipak bola bundar Atau tak lebih sebagai area bagi para pencari angin (pemain layangan).

Untuk para pemain layangan ini perlu diacungi jempol, walau tak digaji untuk menaikan layangan, semangat pagi mereka tak kalah dari para pegawai, yap mereka dinas lebih pagi.

Tak banyak kenangan yang saya alami dilapangan veledrom ini. Kecuali, di lapangan ini lah saya dilantik pada saat pramuka, tak ingat menjadi apa, namun setelah berjalan berkilo-kilo memutari sungai, jalanan kampung, jembatan dll, kegiatan puncak pramuka tersebut berakhir dilapangan veledrom ini. Dan kecuali, dilapangan ini, saya beradu balap mobil remote control dengan tetangga yang berakhir kekalahan, dilapangan inilah saya menyadari bahwa ban depan mobil remote saya tidak lurus alias tempang alias agak belok, sehingga ketika di-gas, jalan mobilnya tidak lurus.

Selebihnya tidak ada kenangan yang begitu memorable yang dapat diingat dari lapangan ini.